Pornografi dari Jaman ke Jaman
Apr 28th, 2008 by iman brotoseno
Dalam perjalanan ke Negeri Belanda beberapa tahun lalu, saya menyempatkan mampir ke Museum Sex di Amsterdam. Tentu saja saya ingin tahu apa sih yang dipajang di dalamnya. Isinya sih biasa biasa saja. Ada beberapa hal dimana toko obat dan sex Ma Huan di sepanjang jalan Jatinegara lebih menarik isinya. Namun yang menarik adalah tentang sejarah sex di negeri negeri jajahannya termasuk Indonesia.
Ada beberapa photo hitam putih yang menunjukan adegan hardcore antara pria Belanda dan wanita pribumi. Kalau tidak salah photo itu diambil pada awal abad 20.
Secara tidak langsung menegaskan, gadis pribumi itu mungkin orang Indonesia pertama yang mempertontonkan pornografi.
Selanjutnya pada tahun 1929, sebuah film berjudul Rahasia Borobudur menjadi polemik karena mengambil gambar adegan ciuman. Sesuatu yang sangat baru pada masa itu. Tahun 1950 an, Nurnaningsih menimbulkan kehebohan karena berani tampil seronok dalam filmnya ‘ Krisis ‘ dan ‘ Harimau Tjampa ‘.
Pada tahun 70an. Rahayu Effendi menjadi simbol seks ketika berani bugil dalam filmnya ‘ Tante Girang ‘. Demikian juga Suzanna dalam ‘ Bernafas dalam lumpur ‘.
Ada salah satu peristiwa yang saat itu juga menghebohkan, adalah beredarnya Kalender 1984 berisi foto bugil para model Indonesia. Seusai sekolah kami memburu kalender itu di Jalan Sabang.
Yanti Kosasih, Dewi Angraini Kusuma, Rina Susan, Sylvia Karenza, Retno Susan dan Dewi Noverawati akhirnya dibawa ke pengadilan karena mempertontonkan kemolekan tubuhnya. Namun tidak sampai dihukum atau divonis oleh Majelis.
Tahun yang sama juga, dunia video kaset Betamax dihebohkan dengan pemunculan film blue asli pemain Indonesia. Setelah menonton Sex Boat , Emmanuelle atau Debby Does Dallas pada jaman itu. Film Blue lokal sangat parah pengambilan gambar dan pencahayaannya. Asal asalan dengan memakai pelacur murahan dan model prianya konon seperti tukang becak ! Anglenya pun monoton.
Ayu Azhari memulai karirnya dari bintang film berani. Dalam film patungan Rapi Film dan Amerika awal 90. Ia berani bugil dan bercinta dengan lawan mainnya bule Amerika disebuah bathtub kamar mandi. Menurut Bob Chappel sang sutradara. Hanya 6 orang crew termasuk dirinya dan kameramen yang diijinkan masuk ke area syuting.
Beberapa tahun kemudian saya hanya melihat potongan rushes copynya yang belum disensor. Bergumam.
“ ini sih XX…pasti inter course beneran “
Bob hanya tersenyum.
Selanjutnya dalam era digital sekarang, dimana kamera digital, ponsel, dvd, video kamera merupakan gadget yang sangat ramah dan murah. Perkembangan pornografi tiba tiba menjadi sesuatu – di satu sisi mencemaskan – yang biasa. Dengan mudahnya ditemui lorong lorong dalam internet yang menawarkan dunia esek esek ini. Asli, lokal Indonesia dan indah gambarnya. Menunjukan bahwa pengambilan gambarnya juga memperhatikan kaedah kaedah estetika dan aspirasi.
Gambar Pornografi tidak menjadi monopoli artis atau model. Ada saja mulai pejabat, politikus, pelajar, mahasiswa sampai siapa saja. Terlalu banyak sehingga bingung sendiri mau melihat yang mana.
Kini pornografi bisa menjadi budaya. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Ada sesuatu yang mereka lupakan. Kesakralan.
Sex dari dulu tidak dipertontonkan. Suku suku pedalaman di Papua membiarkan pasangan melakukan ditempat terpencil yang tidak dilihat orang. Pun, pemandian para raja di Kolam Taman Sari. Hanya konsumsi pribadi.
Karena sex itu sesuatu yang indah. Apapun kita bisa melakukan sepanjang itu halal dan dengan muhrim. Jadi tidak ada yang salah dengan sex, yang salah orang orang yang membuatnya jadi barang komoditi.
Sejarah pornografi Indonesia tak akan ketinggalan jaman. Terus berkembang. Percayalah
Hehehe…iya, dan orangtua harus sadar dan mulai mengajar anaknya pengetahuan tentang sex, agar si anak tak mencari pengetahuan tsb dari tempat lain.
Dan saya sepaham sama anakku,katanya…”Ibu kan tak tahu bahwa saya dulu juga bandel, suka pengin tahu yang aneh-aneh…tapi karena sejak awal ibu mengajari bahayanya, saya juga tak terjebak….” Jadi intinya hubungan ortu dan anak harus dekat.
Duh… berat ini kalo mesti ngomongin ginian ama anak kecil… la wong saya ditanyaain ponakan, “pacaran itu apa sich Aunty… saya bingung jawabnya… ”
gimana kalo mereka nanya2 ttg sex… modyarrrr akyu…
ck..ck…ck….
*merasa salah ambil jurusan*
*harusnya ga ambil ttg indsutri tp ttg studi seks dan pornografi*
langsung googling nyari poto2 Yanti Kosasih, Dewi Angraini Kusuma, Rina Susan, Sylvia Karenza, Retno Susan dan Dewi Noverawati
aku nonton yg ‘no mercy’. eh bener itu bukan yg ayu azhari? beuh, seriusan, mas. I think it’s real, yg di bath tub.
itu asli Ayu Azhari….
iya, tauuu…maksudku, aku mikirnya mereka pasti intercourse beneran, bukan acting
oh iya ASELIIII intercourse …
how lucky chris mitchum…