Etika Penulisan Blog
Feb 26th, 2008 by iman brotoseno
Apakah ada batasan dalam menulis sebuah blog ? Hal hal ini sebenarnya sudah sering dibahas, dan umumnya semua harus sepakat bahwa ‘ freedom of expression ‘ merupakan elemen utama dalam penulisan. Tapi apakah serta merta sebebas itu ?
Berbeda dengan media jurnalis mainstream lainnya, sebuah blog bisa dengan cepat berinteraksi dan secara cair bebas bergerak kemana saja tanpa melalui penyaringan seperti yang ditemui pada fungsi redaktur pada media tradisional.
Karena kita adalah penulis, pengedit, sekaligus dan penerbit. Sehingga filter itu berada pada kita sendiri. Itulah tantangan sekaligus seninya ngeblog.
Sekarang kembali kepada kita, sejauh mana kita mengekspresikan kebebasan itu.
Ada tatananan moral. budaya, agama, perilaku dan kehidupan sosial yang mau tidak mau harus menjadi batasan dalam menuliskan suatu topik.
Ironis ? atau memang semestinya kita hormati ?
Anda bebas saja memaki maki Tuhan, menyebar fitnah, memposting gambar gambar porno, menyerang orang atau meragukan sebuah agama. Toh anda bisa berkilah ini blog blog saya. Jangan baca kalau tidak suka.
Tapi apakah sesimpel itu. Tentu saja tidak.
Saya selalu percaya selalu ada tatanan di luar sana yang tetap kita hormati.
Ini analoginya. Jika anda memasang speaker dari rumah anda sendiri kemudian anda berteriak teriak menyerang tetangga kita. Apakah anda bisa dengan mudahnya berkilah ini rumah saya, silahkan tutup kuping.
Kebebasan dalam menulis bukan sekadar kemerdekaan individu yang melekat secara otomatis tanpa memperhatikan rambu rambu sosial dan etika pergaulan.
Kita juga harus menghargai tetangga kita dengan bermacam macam latar belakang pendidikan, strata sosial dan pengalaman hidup. Ini bukan sekedar tinggal di lingkungan Pondok Indah yang lingkungannya homogen. Ini sebuah blogsphere dengan lingkungan heterogen. Inilah indahnya keanekaragaman.
Kita juga tak perlu melecehkan bentuk rumah tetangga kita yang ambur adul. Menertawakan halaman rumah tetangga kita yang tidak pernah dipotong rumputnya atau menyerang pemilik rumah itu yang tidak bisa bergaul dengan baik. Cukuplah kita bergunjing berbisik bisik dengan teman teman dekat saja, tanpa harus memasang speaker kencang kencang.
Ada pepatah jawa, ngono yo ngono mbok ojo ngono.
kebebasan yang bertanggung jawab ya mas?
ada proses berkenalan,
ada interaksi melalui koment,
namun tetap saja tidak lengkap karena mimik muka, tidak nampak
-maaf kalo salah-
Sepakat mas!
tak ada kebebasan mutlak, yang ada hanya ketergantungan. manusia makhluk sosial, begitu pun dengan blog..
sepakat mas!
tak ada kebebasan mutlak, la wong mata aja begerak menurut hukum alam kok..
manusia makhluk sosial, begitupun dengan blog!
hmm kebebasan yah. maksih ilmunya mas
hm kebebasan, makasih ilmunya mas.
Ya, kebebasan itu bukannya tanpa batas tho. Selalu ada norma (tak tertulis) yang wajib kita hormati.
NB: Kirain siapa, ternyata blognya mas Iman juga tho, hehe
Hmm kebebasan yang tidak bebablasan. Ekspresif tapi terkontrol.
**mencoba mencerna**
blogsphere itu memang heterogen ya mas. Tidak seperti pondok indah, apalagi apartemen mewah..(kapan ya saya bisa punya rumah di pondok indah? lah kok malah menghayal..hehehe)
Thanks mas karna sudah menulis ttg ini, sungguh berguna bagi saya yg masih pemula dalam dunia blog.
tidak pernah ada kebebasan yang benar2 bebas.
karena ada bebas yang kebablasan.
lho kl bisa kebablasan berarti ga bebas dunk?
eh.. bebas itu yang seperti apa tho?
zaman smkin modern, kebebasn, kemredkaan, & privasi slalu diutamakn. tp yng pnting “TANGGUNG JAWAB”. setiap perbuatn hrus ada tnggung jwab dan konsenkuensinya. sperti kta pk Mizwar: BANGKIT….
Hidup adalah perbuatan